Materi 2
1. Potensial Listrik
Potensial listrik dapat didefinisikan sebagai usaha yang diperlukan untuk memindahkan muatan positif sebesar 1 satuan dari tempat tak terhingga ke suatu titik tertentu. Potensial listrik dapat pula diartikan sebagai energi potensial listrik per satuan muatan penguji.
Secara matematis, definisi di atas dapat ditulis,
:
dengan V,U,dan q o masing-masing menyatakan potensial, energi potensial, dan muatan penguji. Menurut definisi di atas, satuan V adalah joule/coulomb atau sering disebut volt.
Keterangan:
V = Potensial listrik ( Volt )
Q = Muatan listrik (C)
W = Usaha (J)
Potensial listrik sebesar 1 Volt antara dua titik jika diperlukan usaha 1 Joule untuk memindahkan muatan 1 Coulumb antara dua titik tersebut.
Penyelesaian
Diketahui:
Q = 10C
W = 100 Joule
Ditanya: V = …?
Jawab:
V = W/Q
= 100 Joule/10C
= 10 J/C
= 10 volt
Demikian pembahasan tentang potensial listrik yang meliputi pengertian potensial listrik, rumus potensial listrik dan dilengkapi dengan contoh soal energi potensial listrik.
2. Kapasitor
Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad dari nama Michael Faraday. Kondensator juga dikenal sebagai "kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai hingga saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali condensatore), berkenaan dengan kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya. Kebanyakan bahasa dan negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia "condensatore", bahasa Perancis condensateur, Indonesia dan Jerman Kondensator atau Spanyol Condensador.

: Kapasitansi
: permitivitas hampa
: permitivitas relatif
: luas pelat
:jarak antar pelat/tebal dielektrik
Adapun cara
3. Arus Listrik
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron-elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat lemah dalam satuan mikroAmpere (
) seperti di dalam jaringan tubuh hingga arus yang sangat kuat 1-200 kiloAmpere (kA) seperti yang terjadi pada petir. Dalam kebanyakan sirkuit arus searah dapat diasumsikan resistansi terhadap arus listrik adalah konstan sehingga besar arus yang mengalir dalam sirkuit bergantung pada voltase dan resistansi sesuai dengan hukum Ohm.
Arus listrik merupakan satu dari tujuh satuan pokok dalam satuan internasional. Satuan internasional untuk arus listrik adalah Ampere (A). Secara formal satuan Ampere didefinisikan sebagai arus konstan yang, bila dipertahankan, akan menghasilkan gaya sebesar 2 x 10-7 Newton/meter di antara dua penghantar lurus sejajar, dengan luas penampang yang dapat diabaikan, berjarak 1 meter satu sama lain dalam ruang hampa udara.
Untuk arus yang konstan, besar arus
dalam Ampere dapat diperoleh dengan persamaan:
adalah arus listrik,
adalah muatan listrik, dan
adalah waktu (time).
Sedangkan secara umum, arus listrik yang mengalir pada suatu waktu tertentu adalah:
melalui integrasi:
maupun waktu
merupakan besaran skalar. Dalam banyak hal sering digambarkan arus listrik dalam suatu sirkuit menggunakan panah, salah satunya seperti pada diagram di atas. Panah tersebut bukanlah vektor dan tidak membutuhkan operasi vektor.
Pada diagram di atas ditunjukkan arus mengalir masuk melalui dua
percabangan dan mengalir keluar melalui dua percabangan lain. Karena
muatan listrik adalah kekal maka total arus listrik yang mengalir keluar haruslah sama dengan arus listrik yang mengalir ke dalam sehingga
. Panah arus hanya menunjukkan arah aliran sepanjang penghantar, bukan arah dalam ruang.
Pada diagram digambarkan panah arus searah dengan arah pergerakan
partikel bermuatan positif (muatan positif) atau disebut dengan istilah arus konvensional. Pembawa muatan positif tersebut akan bergerak dari kutub positif baterai menuju ke kutub negatif. Pada kenyataannya, pembawa muatan dalam sebuah penghantar listrik adalah partikel-partikel elektron bermuatan negatif yang didorong oleh medan listrik mengalir berlawan arah dengan arus konvensional. Sayangnya, dengan alasan sejarah, digunakan konvensi berikut ini:
adalah arus pada penghantar, vektor J adalah rapat arus yang memiliki arah sama dengan kecepatan gerak muatan jika muatannya positif dan berlawan arah jika muatannya negatif, dan dA adalah vektor luas elemen yang tegak lurus terhadap elemen. Jika arus listrik seragam sepanjang permukaan dan sejajar dengan dA maka J juga seragam dan sejajar terhadap dA sehingga persamaan menjadi:
adalah luas penampang total dan
adalah rapat arus dalam satuan A/m2
4. Hambatan & Rangkaian Listrik
Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm dapat dirumuskan sebagai berikut:
Komponen sebuah rangkaian listrik atau rangkaian elektronik dapat dihubungkan dengan berbagai cara. Dua tipe paling sederhana adalah rangkaian seri dan parallel. Rangkaian yang disusun secara sejajar disebut rangkaian seri, sedangkan rangkaian yang disusun secara berderet disebut rangkaian paralel. Komponen yang tersusun seri akan terhubung melalui satu jalur, sehingga aliran arus listrik akan mengalir ke semua komponen. Pada rangkaian paralel, tegangan yang melewati tiap komponen adalah sama, dan total arus adalah jumlahan arus yang melewati tiap komponen.
Anggap sebuah rangkaian sederhana yang terdiri dari 4 lampu dan satu baterai 6 V. Jika keempat lampu terhubung seri, maka arus yang melewati tiap lampu sama dan voltage drop turun 1.5 V setiap lampu, yang mungkin tidak cukup untuk menyalakan semua lampu. Jika keempat lampu terhubung paralel, arus yang melalui tiap lampu akan digabungkan, sedangkan voltage drop turun melalui tiap lampu dan semuanya bisa menyala.
Rangkaian listrik paralel adalah suatu rangkaian listrik, di mana semua input komponen berasal dari sumber yang sama. Semua komponen satu sama lain tersusun paralel. Hal inilah yang menyebabkan susunan paralel dalam rangkaian listrik menghabiskan biaya yang lebih banyak (kabel penghubung yang diperlukan lebih banyak). Selain kelemahan tersebut, susunan paralel memiliki kelebihan tertentu dibandingkan susunan seri. Adapun kelebihannya adalah jika salah satu komponen dicabut atau rusak, maka komponen yang lain tetap berfungsi sebagaimana mestinya
Gabungan antara rangkaian seri dan rangkaian paralel disebut rangkaian seri-paralel (kadang disebut sebagai rangkaian campuran atau rangkaian kombinasi).

Konduktansi listrik berkebalikan dengan hambatan. Total konduktansi pada rangkaian seri dari resistor dapat dihitung dari persamaan berikut:



Contoh soal :
= 9 ohm
Potensial listrik dapat didefinisikan sebagai usaha yang diperlukan untuk memindahkan muatan positif sebesar 1 satuan dari tempat tak terhingga ke suatu titik tertentu. Potensial listrik dapat pula diartikan sebagai energi potensial listrik per satuan muatan penguji.
Secara matematis, definisi di atas dapat ditulis,
:
dengan V,U,dan q o masing-masing menyatakan potensial, energi potensial, dan muatan penguji. Menurut definisi di atas, satuan V adalah joule/coulomb atau sering disebut volt.
Berikut ini merupakan pembahasan tentang potensial listrik yang meliputi
potensial listrik, pengertian potensial listrik, rumus potensial
listrik, contoh soal potensial listrik, rumus energi potensial, energi
potensial listrik, rumus tegangan listrik, alat untuk mengukur tegangan
listrik adalah voltmeter.
Pada gambar di atas dilukiskan elektron bergerak dari pelat A ke pelat B.
Pengertian Potensial Listrik
Sebuah elektron tidak mungkin dapat bergerak dengan sendirinya dari plat A ke plat B. Secara alami elektron akan bergerak mendekati muatan + dan menjauhi muatan -, jadi untuk menggerakkan dengan arah sebaliknya diperlukan suatu usaha.| Gambar: Elektron yang Bergerak dari A ke B |
Pada gambar di atas dilukiskan elektron bergerak dari pelat A ke pelat B.
Potensial listrik dapat didefinisikan sebagai usaha yang diperlukan untuk memindahkan muatan positif sebesar 1 satuan dari tempat tak terhingga ke suatu titik tertentu. Potensial listrik dapat pula diartikan sebagai energi potensial listrik per satuan muatan penguji.
Rumus Potensial Listrik
Usaha yang diperlukan untuk memindahkan muatan dari B ke A per satuan muatan disebut potensil listrik. Potensial listrik dapat dilukiskan dalam persamaan sebagai berikut.Keterangan:
V = Potensial listrik ( Volt )
Q = Muatan listrik (C)
W = Usaha (J)
Potensial listrik sebesar 1 Volt antara dua titik jika diperlukan usaha 1 Joule untuk memindahkan muatan 1 Coulumb antara dua titik tersebut.
Contoh Soal Potensial Listrik
Untuk memindahkan muatan sebesar 10 C dari A ke B diperlukan usaha sebesar 100 Joule hitunglah potensial AB tersebut!Penyelesaian
Diketahui:
Q = 10C
W = 100 Joule
Ditanya: V = …?
Jawab:
V = W/Q
= 100 Joule/10C
= 10 J/C
= 10 volt
Demikian pembahasan tentang potensial listrik yang meliputi pengertian potensial listrik, rumus potensial listrik dan dilengkapi dengan contoh soal energi potensial listrik.
2. Kapasitor
Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad dari nama Michael Faraday. Kondensator juga dikenal sebagai "kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai hingga saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali condensatore), berkenaan dengan kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya. Kebanyakan bahasa dan negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia "condensatore", bahasa Perancis condensateur, Indonesia dan Jerman Kondensator atau Spanyol Condensador.
- Kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu positif dan negatif serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya berbentuk tabung.
- Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya lebih rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada kakinya, kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan lainnya seperti tablet atau kancing baju.
Kapasitansi
Satuan dari kapasitansi kondensator adalah Farad (F). Namun Farad adalah satuan yang terlalu besar, sehingga digunakan:- Pikofarad (
) =
- Nanofarad (
) =
- Microfarad (
) =
Adapun cara
- Menyusunnya berlapis-lapis.
- Memperluas permukaan variabel.
- Memakai bahan dengan daya tembus besar.
| Dielektrik | Permitivitas |
|---|---|
| Keramik rugi rendah | 7 |
| Keramik k tinggi | 50.000 |
| Mika perak | 6 |
| Kertas | 4 |
| Film plastik | 2,8 |
| Polikarbonat | 2,4 |
| Polistiren | 3,3 |
| Poliester | 2,3 |
| Polipropilen | 8 |
| Elektrolit aluminium | 25 |
| Elektrolit tantalum | 35 |
Wujud
| Tipe | Jangkauan | Toleransi (%) | Tegangan AC lazim (V) | Tegangan DC lazim (V) | Koefisien suhu (ppm/C) | Frekuensi pancung |
Sudut rugi ( |
Resistansi bocoran ( |
Stabilitas |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kertas | 10 nF - 10 uF | ± 10% | 500 V | 600 V | 300 ppm/C | 0,1 MHz | 0,01 | 109 |
lumayan |
| Mika perak | 5 pF - 10 nF | ± 0,5% | - | 400 V | 100 ppm/C | 10 MHz | 0,0005 | 1011 |
Baik sekali |
| Keramik | 5 pF - 1 uF | ± 10% | 250 V | 400 V | 30 ppm/C | 10 MHz | 0,01 | 108 |
Baik |
| Polystyrene | 50 pF - 500 nF | ± 1% | 150 V | 500 V | -150 ppm/C | 10 MHz | 0,0005 | 1012 |
Baik sekali |
| Polyester | 100 pF - 2 uF | ± 5% | 400 V | 400 V | 400 ppm/C | 1 MHz | 0,001 | 1011 |
Cukup |
| Polypropylene | 1 nF - 100 uF | ± 5% | 600 V | 900 V | 170 ppm/C | 1 MHz | 0,0005 | 1010 |
Cukup |
| Elektrolit aluminium | 1 uF - 1 F | ± 50% | Terpolarisasi | 400 V | 1500 ppm/C | 0,05 MHz | 0,05 | 108 |
Cukup |
| Elektrolit tantalum | 1 uF - 2000 uF | ± 10% | Terpolarisasi | 60 V | 500 ppm/C | 0,1 MHz | 0,005 | 108 |
Baik |
Jenis
Berdasarkan kegunaannya kondensator dibagi dalam:- Kondensator tetap (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah)
- Kondensator elektrolit (Electrolite Condenser = Elco)
- Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah-ubah)
3. Arus Listrik
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron-elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat lemah dalam satuan mikroAmpere (
Arus listrik merupakan satu dari tujuh satuan pokok dalam satuan internasional. Satuan internasional untuk arus listrik adalah Ampere (A). Secara formal satuan Ampere didefinisikan sebagai arus konstan yang, bila dipertahankan, akan menghasilkan gaya sebesar 2 x 10-7 Newton/meter di antara dua penghantar lurus sejajar, dengan luas penampang yang dapat diabaikan, berjarak 1 meter satu sama lain dalam ruang hampa udara.
Untuk arus yang konstan, besar arus
Sedangkan secara umum, arus listrik yang mengalir pada suatu waktu tertentu adalah:
Arah arus
Definisi arus listrik yang mengalir dari kutub positif (+) ke kutub negatif (-) baterai (kebalikan arah untuk gerakan elektronnya)
- Panah arus digambarkan searah dengan arah pergerakan seharusnya dari pembawa muatan positif, walaupun pada kenyataannya pembawa muatan adalah muatan negatif dan bergerak pada arah berlawanan.
Rapat arus
Rapat arus (bahasa Inggris: current density) adalah aliran muatan pada suatu luas penampang tertentu di suatu titik penghantar Dalam SI, rapat arus memiliki satuan Ampere per meter persegi (A/m2).Kelajuan hanyutan
Saat sebuah penghantar tidak dilalui arus listrik, elektron-elektron di dalamnya bergerak secara acak tanpa perpindahan bersih ke arah mana pun juga. Sedangkan saat arus listrik mengalir melalui penghantar, elektron tetap bergerak secara acak namun mereka cenderung hanyut sepanjang penghantar dengan arah berlawanan dengan medan listrik yang menghasilkan aliran arus. Tingkat kelajuan hanyutan (bahasa Inggris: drift speed) dalam penghantar lebih kecil dibandingkan dengan kelajuan gerak-acak, yaitu antara 10-5 dan 10-4 m/s dibandingkan dengan sekitar 106 m/s pada sebuah penghantar tembaga.4. Hambatan & Rangkaian Listrik
Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm dapat dirumuskan sebagai berikut:
Jembatan Wheatstone
Alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie pada 1833 dan meningkat kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843. Ini digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup komponen diketahui kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer. Jembatan Wheatstone adalah suatu proses menentukan nilai hambatan listrik yang presisi/tepat menggunakan rangkaian Jembatan Wheatstone dan melakukan perbandingan antara besar hambatan yang telah diketahui dengan besar hambatan yang belum diketahui yang tentunya dalam keadaan Jembatan disebut seimbang yaitu Galvanometer menunjukkan pada angka nol.Galvanometer
Alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung. Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt). Galvanometer terdiri atas sebuah komponen kecil berlilitan banyak yang ditempatkan dalam sebuah medan magnet begitu rupa sehingga garis-garis medan akan menimbulkan kopel pada kumparan apabila melalui kumparan ini ada arus.Komponen sebuah rangkaian listrik atau rangkaian elektronik dapat dihubungkan dengan berbagai cara. Dua tipe paling sederhana adalah rangkaian seri dan parallel. Rangkaian yang disusun secara sejajar disebut rangkaian seri, sedangkan rangkaian yang disusun secara berderet disebut rangkaian paralel. Komponen yang tersusun seri akan terhubung melalui satu jalur, sehingga aliran arus listrik akan mengalir ke semua komponen. Pada rangkaian paralel, tegangan yang melewati tiap komponen adalah sama, dan total arus adalah jumlahan arus yang melewati tiap komponen.
Anggap sebuah rangkaian sederhana yang terdiri dari 4 lampu dan satu baterai 6 V. Jika keempat lampu terhubung seri, maka arus yang melewati tiap lampu sama dan voltage drop turun 1.5 V setiap lampu, yang mungkin tidak cukup untuk menyalakan semua lampu. Jika keempat lampu terhubung paralel, arus yang melalui tiap lampu akan digabungkan, sedangkan voltage drop turun melalui tiap lampu dan semuanya bisa menyala.
Rangkaian listrik paralel adalah suatu rangkaian listrik, di mana semua input komponen berasal dari sumber yang sama. Semua komponen satu sama lain tersusun paralel. Hal inilah yang menyebabkan susunan paralel dalam rangkaian listrik menghabiskan biaya yang lebih banyak (kabel penghubung yang diperlukan lebih banyak). Selain kelemahan tersebut, susunan paralel memiliki kelebihan tertentu dibandingkan susunan seri. Adapun kelebihannya adalah jika salah satu komponen dicabut atau rusak, maka komponen yang lain tetap berfungsi sebagaimana mestinya
Gabungan antara rangkaian seri dan rangkaian paralel disebut rangkaian seri-paralel (kadang disebut sebagai rangkaian campuran atau rangkaian kombinasi).
Arus
Resistor
Total hambatan resistor pada rangkaian seri sama dengan jumlahan masing-masing hambatan:Konduktansi listrik berkebalikan dengan hambatan. Total konduktansi pada rangkaian seri dari resistor dapat dihitung dari persamaan berikut:
.
Induktor
Induktor juga mengikuti hukum yang sama:Kapasitor
Kapasitor mengikuti hukum berkebalikan. Total kapasitansi yang dipasang seri sama dengan dari jumlah kebalikan masing-masing elemen:.
Rangkaian paralel
.
- Jumlah kebalikan hambatan total rangkaian paralel sama dengan jumlah dari kebalikan hambatan tiap- tiap komponen (resistor).
Contoh soal :
1. Tiga buah hambatan disusun
secara seri, masing – masing nilainya 4 ohm, 3 ohm dan 5 ohm. Hambatan ini
kemudian dipasang pada tegangan 120 volt. Hitunglah besarnya tegangan pada
hambatan 3 ohm.
Jawab:
R1 = 4 ohm
R2 =3 ohm
R3 =5 ohm
V = 120 volt
Rtotal = 4 ohm + 3 ohm + 5 ohm = 12 ohm
V = I . R
I = V/Rtotal = 120
/12 = 10 A
V pada R2 (bernilai 3 ohm) adalah
VR2 = I X R2
= 10 X 3
= 30 volt
2. Tiga buah hambatan dihubungkan
secara paralel. Hambatan tersebut masing masing bernilai 2 ohm, 1 ohm dan 2
ohm. Jika rangkaian hambatan tersebut dihubungkan pada tegangan 12 volt,
hitunglah besarnya kuat arus total dan kuat arus yang mengalir pada hambatan 1
ohm.
Jawab:
R1
= 2 ohm
R2 = 1 ohm
R3 = 2 ohm
V = 12 volt
1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 +
1/R3
= ½ + 1/1 + ½
= 4/2
Rtotal = ½ ohm
Kuat arus
totalnya adalah:
V =
Itotal X Rtotal
Itotal = V / Rtotal = 12/(1/2) =
24 ampere
Kuat arus
pada resistor 1 ampere adalah
IR2 = V / R2 =
12 / 1 =12 ampere
3. Hitunglah besar hambatan pengganti dari rangkain hambatan di bawah
ini.
Karena rangkaian yang ujung bersifat terbuka sehingga arus tidak ada yang
akan melewati resistor 7 ohm dan 14 ohm, maka kedua resistor tersebut tidak
perlu dihitung sehingga rangkaian dapat diubah menjadi seperti berikut.
Karena resistor 3 ohm, 2 ohm, 1 ohm,
2 ohm dan 4 ohm terhubung secara seri, maka kita dapat menghitung hambatan
totalnya (dari rangkaian seri 5 buah resitor tersebut) dengan menjumlahkan
sebagai berikut.
Rs = 3 + 2 + 1 +
2 + 4 = 12 ohm
Rangkaian sekarang berubah menjadi seperti berikut.
Karena Rs dan resistor 6 ohm terhubung secara paralel, maka sekarang
kita dapat menghitungnya dengan rumus:
1/Rp= 1/Rs + 1/6
= 1/12 + 1/6
= 3/12
Rp = 12/3
= 4 ohm
Sekarang rangkaian berubah seperti gambar berikut.
Karena masing masing resistor sudah terhubung seri maka sekarang kita
tinggal menjumlahkan ketiganya sehingga didapatkan sebagai berikut.
Rtotal = 2 ohm + 4 ohm + 3 ohm
= 9 ohm
Jadi hambatan total dari rangkaian di atas adalah 9 ohm
4. Sederhanakanlah rangkaian resistor berikut ini
Rangkaian di atas dapat pula kita gambarkan sebagai berikut.
Karena pada gambar terdapat tiga buah resistor 6 ohm yang terhubung secara
paralel maka kita dapat menghitungnya sebagai berikut.
1/Rp = 1/6 + 1/6 +
1/6
= 3/6
Rp = 6/3
= 2 ohm
Gambar rangkaiannya sekarang menjadi seperti berkut
Karena semua resistor sudah terhubung secara seri, maka untuk mencari hambatan
totalnya kita dapat menjumlahkan masing masing nilai resistor tersebut sehingga
didapatkan nilai sebagai berikut.
Rtotal =
1 ohm + 4 ohm + 2 ohm + 12 ohm + 3 ohm =
22 ohm
5. Carilah hambatan pengganti dari rangkaian hambatan berikut ini.
Dari gambar di atas, terlihat bahwa ada dua resistor yang terhubung paralel
yaitu resistor 4 ohm. Untuk pertama kali kita hitung dulu hambatan pengganti
dari resistor paralel ini dengan rumus berikut.
1/RP1 = ¼ + ¼ = 2/4
Rp1 = 4/2
= 2 ohm
Sekarang gambar rangkaian kita menjadi seperti berikut.
Karena resistor 2 ohm terhubung secara seri ke resistor Rp1,
maka sekarang kita tinggal hitung hambatan seri keduanya dengan cara
menjumlahkan seperti berikut.
Rs1 =2 ohm + Rs1 = 2 + 2 =
4 ohm
Gambar kita sekarang berubah sebagai berikut.
Karena Rs1 terhubung paralel dengan resistor 4 ohm, maka kita
harus hitung dulu hambatan paralel dari keduanya sebagai berikut.
1/ Rp2 = 1/ Rs1
+ ¼ = ¼ + ¼ =2/4
Rp2 = 4/2
= 2 ohm
Sekarang rangkaian kita berubah menjadi seperti berikut.
Dari gambar terlihat bahwa resistor 2 ohm terhubung secara seri dengan
resistor Rp2, maka sekarang kita tinggal hitung nilai hambatan seri
antara keduanya seperti berikut.
Rs2 = 2 ohm
+ Rp2
= 2 + 2
= 4 ohm
Gambar kita akan berubah seperti berikut.
Karena Rs2 terhubung secara paralel dengan resistor 4 ohm, maka kita hitung juga hambatan paralel
antara keduanya seperti berikut.
1/Rtotal = 1/Rs2
+ ¼
= ¼ + ¼
= 2/4
Rtotal = 4/2
= 2 ohm
6. hitunglah hambatan total dari rangkaian hambatan di bawah ini.
Untuk memudahkan gambar kita ubah dulu bentuknya menjadi seperti berikut.
Pertama kita hitung dulu hambatan seri kedua R 4 ohm seperti berikut.
Rs1 = 4 + 4
= 8 ohm
Sekarang rangkaian kita menjadi seperti berikut.
Karena Rs1 terhubung secara paralel dengan hambatan 8 ohm, maka
kita hitung dulu dengan cara berikut.
1/Rp1 = 1/Rs1
+ 1/8
= 1/8 + 1/8
= 2/8
Rp1 = 8/2
= 4 ohm
Sekarang gambar kita berubah seperti berikut.
Karena Rp1 terhubung
secara seri dengan resistor 2 ohm maka kita hitung dulu hambatan pengganti
keduanya seperti berikut.
Rs2 = Rp1 +
2
= 4 + 2
= 6 ohm
Gambar kita sekarang berubah menjadi seperti berikut.
Sekarang kita hitung dulu hambatan pengganti dari ketiga resistor di atas
dengan cara berikut.
1/Rp2 = 1/Rs2
+ 1/6 + 1/6
= 1/6 + 1/6 + 1/6
= 3 / 6
Rp2 = 6/3
= 2 ohm
Sekarang rangkaian kita berubah seperti gambar berikut.
Karena hambatan yang tersisa terhubung secar seri, maka sekarang kita sudah
bisa menghitung hambatan total dari rangkaian dengan cara berikut.
Rtotal = 7 ohm + Rp2
= 7 + 2
= 9 ohm



















Soccerbet korean - BK9P - legalbet.co.kr
BalasHapusSoccerbet 1xbet partenaire korean - BK9P. korean. soccerbet. korean. soccerbet. soccerbet. korean. 1xbet. korean. soccerbet. korean. 1xbet. korean. soccerbet. 1xbet. korean.